PALU – Ketua Fraksi PKS DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Hj Wiwik Jumatul Rofi’ah, S.Ag, MH didaulat menjadi narasumber dalam symposium perempuan. Kegiatan difasilitasi DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sulawesi Tengah, Ahad (23 November 2025).
Simposium mengusung tema, Perempuan Berdaya dan Bersinar dalam Setiap Peran. Dilaksanakan di Aula Rektorat Universitas Muhammadiyah Palu, mulai pukul 08.00 dan berakhir pukul 13.00. Selain Bunda Wiwik, turut hadir menyampaikan materi, Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulawesi Tengah, Dr Nudhiatulhuda Mangun, SE, MSi.

Dalam paparannya, Bunda Wiwik, mengatakan bahwa kedudukan mulia perempuan yang diakui dalam Islam, berbeda dengan masa pra-Islam yang merendahkan harkat perempuan.
“Dalam paparan ini, saya ingin meluruskan miskonsepsi tentang peran perempuan dalam Islam. Sekaligus memberikan pemahaman, bahwa keberdayaan perempuan adalah bagian integral dari ajaran Islam,”bebernya.
Islam menurut Bunda Wiwik, mengangkat derajat perempuan. Katanya, Manusia, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kedudukan yang setara di hadapan Allah SWT dalam aspek kemanusiaan. Kemuliaan seseorang tidak didasari oleh jenis kelamin, melainkan ketakwaan (taqwa). Perempuan adalah pasangan (partner) bagi laki-laki, bukan bawahan.
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti,”urai Bunda Wiwik, mengutip QS Al-Hujurat Ayat 13.
Sedangkan Perempuan Berdaya dalam Islam, yakni perempuan yang menjalankan peran dan tanggung jawabnya secara optimal, berdasarkan petunjuk Allah SWT. Juga memiliki kemandirian dan otonomi dalam bertindak.
“Sedangkan definisi perempuan berdaya dalam perspektif Islam, yakni mampu menginspirasi, mendidik, dan memberikan kontribusi positif bagi keluarga serta masyarakat. Keberdayaan bukan berarti menentang fitrah, melainkan mengoptimalkan potensi yang diberikan Allah,”tandasnya.(hnf)